22/08/19

Bangka Belitung



Beberapa lama lagi saya selesai. Beberapa lama lagi Aksatriya purnawirawan. Sebelum semuanya selesai dipenghujung amanah, saya diberikan sebuah tugas terakhir di level nasional dalam masa kepengurusan Aksatriya.

20-05-19 (22.40)

BPH tidak lagi sehangat sahulu bagi saya. Saya sadar dengan beberapa hal yang membuat saya tidak sepenunya lagi total berkerja didalamnya. Saya yang mungkin sekarang lebih perasa atau terlalu menempatkan diri terlalu tinggi karena sebagai ketua.

Setengahku Telah Bahagia

Dahulu saya hanya berani melihatmu dari jauh. Memandangimu penuh kekekaguman, namun jauh disana kau memiliki pendamping yang semu pada masanya. Hari ke hari selalu saja saya melihatimu dari jauh dengan rasa berusaha mengikhlaskan dirimu dalam kebahagiaan yang saya buat. Memanipulasi rasa bahagia demi menjalani diri. Saya terus mengikhlaskamu sambil berusha ingin memilikimu. Namun semua penjagamu itu sampai waktu Sekolah Menangah Atas tak kunjung menghilang juga. Selalu saja ada orang yang mampu memikat hatimu. Sialnya mereka adalah orang – orang yang bersinar di sekolah. Sangat jauh sosok saya dari kesan bercahaya dan mengagumkan. Saya hanya kumpulan brandal pendiam yang termarjinalkan oleh anak – anak ipa yang borjuis dan berkilau sangat terang di sekolah.

Kampanye


Saat malam hari hari jumpa dijalan beton menuju SICC denga abang 14 dan kawan yang tdak berhasil dicalonkan saya sudah menyampaikan bahwa saya tahu betul bahwa setelah mengambil langkah ini saya akan memiliki banyak musuh. Padahal sebelumnya saya tidak memiliki masalah dengan siapapun di kampus
.
Hari pertama mengajukan formulir kami langsung dihadang dengan serangkaian aturan yang menyebabkan Hamdi dan saya belum bisa mengajukan formulir KPU. Mulai dari ketua partai HIMMAH yang selalu kabur jika dihampiri sampai pembunuhan karakter secar psikologis yang kami hadapi di awal hari.

Sebuah Awalan



Tidak pernah berharap apalagi meminta untuk berada di posisi itu. Walapun sudah sejak dari sekolah SMP saya selalu mendambakan untuk menjadi seorang orator yang “gagah”. Ya, sebatas gagah yang saya inginkan dahulu kala. Tidak pernah berpikir untuk mengambil alih sebuah organisasi yang serius untuk dijalani. Pasalnya pada jaman sekolah pun saya tidak terlalu suka tertarik dengan organisasi yang serius sekelas OSIS pada masa itu. Malahan saya kerap kali menjadi oposisi dari OSIS karena kawan – kawan di OSIS pada masa itu tidak terlalu dekat dengan “kami” para berandal sekolahan. Dan terkadang mereka terlihat cukup keren dengan dunianya itu. Kami sirik dan tidak terlalu suka untuk melihat mereka lebih keren

16/06/19

Bercanda


Membangun kepercayaan amatlah susah bagi setiap orang yang memiliki kepercayaan pada tingkatan elevasi tertentu. Kami telah mencoba untuk optimis membangun kerajaan kebaikan untuk kampus dan agama ini “katanya”. Mencoba melanjutkan alurnya dari awal pembentukan oleh senior bagi saya adalah suatu kehormatan. Apalagi kekalahan dan kegagalan beberapa waktu lalu di kampus dan luar kampus adalah sebuah gigitan keras yang menyakitkan bagi saya. Sampai saat ini pikiran tidak pernah bisa berhenti menelaah setiap factor – factor penyebab kegagalan saya. Saya merasa sangat menjadi remeh temeh. Walaupun kalian semua tahu saya pun dicalonkan bukan atas dasar kemampuan saya yang dilihat oleh senior dari awal/bentuk pengkadern. Melainkan melalui musyawarah terbatas yang mengisyaratkan “kita” harus mengamankan posisi penting. Dua tahun belakangan ini saya seringkali dijadikan martir oleh tuhan.