Tidak pernah berharap
apalagi meminta untuk berada di posisi itu. Walapun sudah sejak dari sekolah
SMP saya selalu mendambakan untuk menjadi seorang orator yang “gagah”. Ya,
sebatas gagah yang saya inginkan dahulu kala. Tidak pernah berpikir untuk
mengambil alih sebuah organisasi yang serius untuk dijalani. Pasalnya pada
jaman sekolah pun saya tidak terlalu suka tertarik dengan organisasi yang
serius sekelas OSIS pada masa itu. Malahan saya kerap kali menjadi oposisi dari
OSIS karena kawan – kawan di OSIS pada masa itu tidak terlalu dekat dengan
“kami” para berandal sekolahan. Dan terkadang mereka terlihat cukup keren
dengan dunianya itu. Kami sirik dan tidak terlalu suka untuk melihat mereka
lebih keren
Jaman itu saya sudah
mengenal tokoh – tokoh aktivis termahsyur. Terlebih tokoh – tokoh yang hilang
pada saat pra dan pasca tragedy sejarah 1998. Saya ingat betul beberapa nama
yang sampai saat ini saya selalu bersamai ruhnya saat berteriak dijalanan.
Waktu itu saya selalu mengangap bahwa para tokoh tersebut adalah saya. Pernah
saat ujian praktek menjelang kelulusan saya memerankan diri menjadi seorang
Widji Tukul dengan membacakan syairv garangnya yang berjudul “Sajak Suara”.
Mengisahkan tentang orang – orang yang bersuara keras selalu dihadapkan dengan
larah panjang tak ber prikeadilan, apalagi kemerdekaan. Dengan celana sobek
sangat besar, kaos putih dan jas veteran ABRI warna hijau saya tuntas
memerankan Widji Tukul dengan intonasi menggertak dan teriak saking
menghayatinya.
Saat kuliah saya memang
sempat mengazamkandiri di awal untuk bergabung dengan organisasi Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebelum masuk kampus utama Sentul. Hampir saya benar
– benar mengikuti agenda oprec pada saat itu. .Saya ingat betul pada saat itu
saya sudah bergabung dengan grup calon anggota di jejaring media sosial dan
sempat hampir mengikuti wawancara pada siang hari. Tepatnya saya sedang rebahan
di kamar kos Zikrul Fahmi di daerah Cassablanca.Pada hari H banyak sekali
pertimbangan yang mengahncurkan cita –cita tersebut. Bahkan, beberapa waktu
sebelum itu saya sempat bertanya untuk mengikuti BEM bersamaan di waktu yang
sama dengan MAPALA sekaligus kepada Wakil Presiden Mahasiswa yang pada waktuu itu
merupakan senior juga di MAPALA. Jawaban yang paling saya ingat “lu gaakan
kuliah”. Maklum MAPALA pada waktu itu jelas lebih sibuk daripada BEM. Karena di
waktu itu saya juga melakukan perjalanan – perjalanan lapangan di akhir pecan
dan kelas – kelas yang monoton setiap hari. Tidak ada libur? Memang.
Namun tanpa diduga
datang darimana. Pada suatu hari saya meniatkan diri saya untuk mengikuti
kumpul rutin di sebuah organisasi extra kampus yang saya ikutim KAMMI. Saat
kumpul angkatan 16 dan 15 setelah kurang lebih hampir satu tahun saya benar -
benar tidak pernah kumpul dengan kawan – kawan KAMMI. Di hari yang kurang
menguntungkan buat saya itu saya ditunjuk dan terpaksa saya menyetujui untuk
menjadi seorang Ketua acara yang sebelumnya acara ini tidak banyak diadakan KAMMI.
Bahkan mungkin itu 1 – 1nya acara seminar yang diadakan sejak KAMMI KOMSAT STEI
TAZKIA beridiri, “Muslim Negarawan Course”.
Saya lupa juga tepatnya
apakah itu kali pertama saya menjadi penanggung jawab acara seminar atau bukan.
Jikalau bukan berarti yang pertama adalah ketika di Himpunan Jurusan, ketika
acara upgrading.
Rupanya itu merupakan
sebuah awal “malapetaka” dari amanah selanjutnya selang berapa hari setelah itu
ternyata saya betul – betul sadar bahwa saya sedang disiapkan dengan posisi
lainnya yang lebih “mengerikan” daripada hanya menjadi seorang penaggung jawab
acara yang sehari selesai. Masih di minggu yang sama kami semua diminta untuk
berembuk menentukan dari angkatan 16 siapa yang akan diangkat menjadi seorang
Presiden Mahasiswa a.k.a Ketua BEM. Di hari itu dengan santainya sata datang ke
lokasi yang diberitahukan. Ya, betul – betul santai. Tidak ada beban. Karena
saya tahu betul sebetulnya sudah ada yang diproyeksikan untuk berdakwah di
posisi ini. Namun karena yang saya ketahui ada permainan politik yang memang cerdik
di kampus. Yang bersangkutan untuk diproyeksikan ini tidak memungkinkan karena
tertahan dengan beberapa syarat kuantitatif. Dari semua lelaki yang hadir
disana senior melakukan screening secara kuantitatif dan kualitatif. Sialnya
sayalah pada saat itu yang benar – benar bisa lolos dari syarat – syarat tak
masuk akal itu.
Siang itu berubah
menjadi sebuah ajang penunjukan. Bukan lagi ajang musyawarah untuk mencapai
mufakat.
Mengerikan? Karena ini
adalah amanah besar yang sangat besar juga pertanggung jawabannya. Terlebih
lagi saya harus mengorbankan banyak waktu – waktu untuk diri saya sendiri.
Rencana bisnis, rencana jalan – jalan, rencana naik gunung, rencana gondrong,
dan masih sangat banyak lagi.
Detik itu juga saya
langsung menolak dengan mantap. Saya berpikir sangat panjang dan tidak mau
mengambil sebuah resiko yang bahkan saya belum tahu pasti apa resiko yang bakal
saya hadapi di dapan nanti. Saya bukan anak BEM sebelumnya.
Namun intervensi saat
itu membuat saya nampaknya memang betul – betul tidak bisa menolak. Saya
meminta waktu 2 hari untuk berdialog dengan diri saya sendiri dan meminta izin
pulang ke rumah untuk memastikan restu orangtua.
Ini memang mengerikan
namun dari sudut pandang manusiawi saya juga coba melihat dari sudut pandang
lain. Dimana banyak sekali benefit yang
akan saya dapatkan darisini. Salah satu hal yang paling menguatkan saya ialah
pastinya cita – cita saya untuk bisa berdiri diatas podium dan berteriak degan
keras mungkinakan tercapai dalam waktu dekat. Tapi bicara tentang amanah,
tentunya kita tidak bisa melihat dari sudut pandang duniawi yang terlalu
sempit.
Singkat cerita
pulanglah saya dengan keadaan yang sangat gamang, Keadaan harap cemas. Bisa
dibilang keputusan ini sudah saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan dan orang
tua di rumah.
Tiba dirumah saya
menanyakan pendapat mereka terlebih dahulu. Dan diluar dugaan kedua orang tua
saya betul – betul mendukung dengandalih untuk memenuhi CV lamaran kerja. Lucu
memang, namun saya tahu ada sudut pandang lain saat itu. Percakapan berlangsung
hanya kurang lebih 5 menit, dengan kondisi bahkan tidak sedang duduk. Detik itu
juga setelah memang serius direstui dan dijelaskan berbagai konsekuensinya saya
langsung meminta waktu kuliah tambahan untuk berjaga – jaga. Normalnya kuliah
berlangsung selama 4 tahun. Namun saat itu karena saya sedikit mempertimbangkan
waktu kuliah saya yang akan sangat termakan waktu saya di organisasi, saya
meminta untuk kuliah selama 5 tahun.Bagi saya jika sudah kadung ingin terjun
totalitas adalah jawabannya, bahkan untuk waktu – waktu dan materi yang akan
hilang.
