22/08/19

Sebuah Awalan



Tidak pernah berharap apalagi meminta untuk berada di posisi itu. Walapun sudah sejak dari sekolah SMP saya selalu mendambakan untuk menjadi seorang orator yang “gagah”. Ya, sebatas gagah yang saya inginkan dahulu kala. Tidak pernah berpikir untuk mengambil alih sebuah organisasi yang serius untuk dijalani. Pasalnya pada jaman sekolah pun saya tidak terlalu suka tertarik dengan organisasi yang serius sekelas OSIS pada masa itu. Malahan saya kerap kali menjadi oposisi dari OSIS karena kawan – kawan di OSIS pada masa itu tidak terlalu dekat dengan “kami” para berandal sekolahan. Dan terkadang mereka terlihat cukup keren dengan dunianya itu. Kami sirik dan tidak terlalu suka untuk melihat mereka lebih keren
dari kami apalagi sampai mengatur dalam agenda – agenda yang mereka buat di sekolah.

Jaman itu saya sudah mengenal tokoh – tokoh aktivis termahsyur. Terlebih tokoh – tokoh yang hilang pada saat pra dan pasca tragedy sejarah 1998. Saya ingat betul beberapa nama yang sampai saat ini saya selalu bersamai ruhnya saat berteriak dijalanan. Waktu itu saya selalu mengangap bahwa para tokoh tersebut adalah saya. Pernah saat ujian praktek menjelang kelulusan saya memerankan diri menjadi seorang Widji Tukul dengan membacakan syairv garangnya yang berjudul “Sajak Suara”. Mengisahkan tentang orang – orang yang bersuara keras selalu dihadapkan dengan larah panjang tak ber prikeadilan, apalagi kemerdekaan. Dengan celana sobek sangat besar, kaos putih dan jas veteran ABRI warna hijau saya tuntas memerankan Widji Tukul dengan intonasi menggertak dan teriak saking menghayatinya.

Saat kuliah saya memang sempat mengazamkandiri di awal untuk bergabung dengan organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebelum masuk kampus utama Sentul. Hampir saya benar – benar mengikuti agenda oprec pada saat itu. .Saya ingat betul pada saat itu saya sudah bergabung dengan grup calon anggota di jejaring media sosial dan sempat hampir mengikuti wawancara pada siang hari. Tepatnya saya sedang rebahan di kamar kos Zikrul Fahmi di daerah Cassablanca.Pada hari H banyak sekali pertimbangan yang mengahncurkan cita –cita tersebut. Bahkan, beberapa waktu sebelum itu saya sempat bertanya untuk mengikuti BEM bersamaan di waktu yang sama dengan MAPALA sekaligus kepada Wakil Presiden Mahasiswa yang pada waktuu itu merupakan senior juga di MAPALA. Jawaban yang paling saya ingat “lu gaakan kuliah”. Maklum MAPALA pada waktu itu jelas lebih sibuk daripada BEM. Karena di waktu itu saya juga melakukan perjalanan – perjalanan lapangan di akhir pecan dan kelas – kelas yang monoton setiap hari. Tidak ada libur? Memang. 
Namun tanpa diduga datang darimana. Pada suatu hari saya meniatkan diri saya untuk mengikuti kumpul rutin di sebuah organisasi extra kampus yang saya ikutim KAMMI. Saat kumpul angkatan 16 dan 15 setelah kurang lebih hampir satu tahun saya benar - benar tidak pernah kumpul dengan kawan – kawan KAMMI. Di hari yang kurang menguntungkan buat saya itu saya ditunjuk dan terpaksa saya menyetujui untuk menjadi seorang Ketua acara yang sebelumnya acara ini tidak banyak diadakan KAMMI. Bahkan mungkin itu 1 – 1nya acara seminar yang diadakan sejak KAMMI KOMSAT STEI TAZKIA beridiri, “Muslim Negarawan Course”.

Saya lupa juga tepatnya apakah itu kali pertama saya menjadi penanggung jawab acara seminar atau bukan. Jikalau bukan berarti yang pertama adalah ketika di Himpunan Jurusan, ketika acara upgrading.

Rupanya itu merupakan sebuah awal “malapetaka” dari amanah selanjutnya selang berapa hari setelah itu ternyata saya betul – betul sadar bahwa saya sedang disiapkan dengan posisi lainnya yang lebih “mengerikan” daripada hanya menjadi seorang penaggung jawab acara yang sehari selesai. Masih di minggu yang sama kami semua diminta untuk berembuk menentukan dari angkatan 16 siapa yang akan diangkat menjadi seorang Presiden Mahasiswa a.k.a Ketua BEM. Di hari itu dengan santainya sata datang ke lokasi yang diberitahukan. Ya, betul – betul santai. Tidak ada beban. Karena saya tahu betul sebetulnya sudah ada yang diproyeksikan untuk berdakwah di posisi ini. Namun karena yang saya ketahui ada permainan politik yang memang cerdik di kampus. Yang bersangkutan untuk diproyeksikan ini tidak memungkinkan karena tertahan dengan beberapa syarat kuantitatif. Dari semua lelaki yang hadir disana senior melakukan screening secara kuantitatif dan kualitatif. Sialnya sayalah pada saat itu yang benar – benar bisa lolos dari syarat – syarat tak masuk akal itu.
Siang itu berubah menjadi sebuah ajang penunjukan. Bukan lagi ajang musyawarah untuk mencapai mufakat.

Mengerikan? Karena ini adalah amanah besar yang sangat besar juga pertanggung jawabannya. Terlebih lagi saya harus mengorbankan banyak waktu – waktu untuk diri saya sendiri. Rencana bisnis, rencana jalan – jalan, rencana naik gunung, rencana gondrong, dan masih sangat banyak lagi.
Detik itu juga saya langsung menolak dengan mantap. Saya berpikir sangat panjang dan tidak mau mengambil sebuah resiko yang bahkan saya belum tahu pasti apa resiko yang bakal saya hadapi di dapan nanti. Saya bukan anak BEM sebelumnya.

Namun intervensi saat itu membuat saya nampaknya memang betul – betul tidak bisa menolak. Saya meminta waktu 2 hari untuk berdialog dengan diri saya sendiri dan meminta izin pulang ke rumah untuk memastikan restu orangtua.

Ini memang mengerikan namun dari sudut pandang manusiawi saya juga coba melihat dari sudut pandang lain. Dimana banyak sekali benefit yang akan saya dapatkan darisini. Salah satu hal yang paling menguatkan saya ialah pastinya cita – cita saya untuk bisa berdiri diatas podium dan berteriak degan keras mungkinakan tercapai dalam waktu dekat. Tapi bicara tentang amanah, tentunya kita tidak bisa melihat dari sudut pandang duniawi yang terlalu sempit.

Singkat cerita pulanglah saya dengan keadaan yang sangat gamang, Keadaan harap cemas. Bisa dibilang keputusan ini sudah saya serahkan sepenuhnya kepada Tuhan dan orang tua di rumah.

Tiba dirumah saya menanyakan pendapat mereka terlebih dahulu. Dan diluar dugaan kedua orang tua saya betul – betul mendukung dengandalih untuk memenuhi CV lamaran kerja. Lucu memang, namun saya tahu ada sudut pandang lain saat itu. Percakapan berlangsung hanya kurang lebih 5 menit, dengan kondisi bahkan tidak sedang duduk. Detik itu juga setelah memang serius direstui dan dijelaskan berbagai konsekuensinya saya langsung meminta waktu kuliah tambahan untuk berjaga – jaga. Normalnya kuliah berlangsung selama 4 tahun. Namun saat itu karena saya sedikit mempertimbangkan waktu kuliah saya yang akan sangat termakan waktu saya di organisasi, saya meminta untuk kuliah selama 5 tahun.Bagi saya jika sudah kadung ingin terjun totalitas adalah jawabannya, bahkan untuk waktu – waktu dan materi yang akan hilang.