Saat malam hari hari
jumpa dijalan beton menuju SICC denga abang 14 dan kawan yang tdak berhasil
dicalonkan saya sudah menyampaikan bahwa saya tahu betul bahwa setelah
mengambil langkah ini saya akan memiliki banyak musuh. Padahal sebelumnya saya
tidak memiliki masalah dengan siapapun di kampus
.
Hari pertama mengajukan
formulir kami langsung dihadang dengan serangkaian aturan yang menyebabkan
Hamdi dan saya belum bisa mengajukan formulir KPU. Mulai dari ketua partai
HIMMAH yang selalu kabur jika dihampiri sampai pembunuhan karakter secar
psikologis yang kami hadapi di awal hari.
Sempat pada hari itu
saya mendapatkan sebuah screenshoot dari sebuah group bernama “HMJ Bersatu”
yang isinya kurang lebih menyusunstrategi bagaimana caranya agar saya dan Hamdi
bahkan tidak lolos dalam tahap pemberkasan.
Ke 4 orang dari semua HMJ ini ada dalam 1 grup itu. Dan mereka semua
mengamini untuk tidak meloloskan kami. Mustahil pada saat itu. Ejekan juga
terihat dari dalam grup. Tidak ada hal yang positif, semuanya negative dan
membuat yang membaca akan langsung iba jika ada di pihak “kita”.
Tim kampanye kami
berjumlah sampai dengan 60 orang. Jumlah yang banyak dan terstruktur disbanding
tim lawan yang melakukan kampanye dengan penyerangan – penyerangan secara sporadic
melali story – story dari orang – orang tongkorongan. Tim kampanye kami
dikomandoi oleh saudara Naufal dengan dibina langsung oleh abang –abang yang
telah berpengalaman. Tim ini beerja sangat sisteatis dan memiliki jadwal hal
yang akan dilakukan sampai dnegan waktu pamira tiba. Ada tim lapangan, tim
infiltrator, tim media dan sisanya saya lupa. Mulai dari memasang banner,
membagikan stiker, brosur, membuat story serentak itu dikerjakan oleh tim ini.
Tim yang angat totitas, militant dan membahagiakan.
Pernah suatu saat
ketika saya sedang melaksanakan pengembaraan selama 7 hari di daerah jonggol.
Saya merindukan mereka yang selalu larut tidur karena membahas kampanye hari
per harinya seperti apa, pemetaan sudah sejauh mana. Tepatnya saat itu jam set
10 malam saya berangkat dari daerah jonggol menuju sentul, Victoria tepatnya
dengan dalih mengambilsuatu barang yang tertinggal. Bersama dengan SalmanZuhdi
atau baernama rimba saga kami berangkat menujusentul menggunkaan motordan
berbekal golok. Bukan main, jalan dari basecamp pengembaraan kita memang sangat
terpencil, bahkan sinyal HP tidak bisa diakses disana. Hal yang menyedihkan,
kami snagatsulit untuk melakukan komunikasi dengan siapapun diluar dari lokasi
pengembaraan. Setibanya disana saya minta diantarkan langsung ke rumah milik
uni padang. Yaitu Jalan Mahkota Raja No. 15. Rumah penuh sejarah yang jika saya
mengingat rumah itu sampai sekarang romantisme itu terasa kembali. Jalan menuju
sentul ternyata hujan, dan kami hanya memiliki 1 buah jas hujan kresek yang
dibeli di indomart sebelumnya. Walhasil saya berikan kepada salman saja, karena
dia membawa sepeda motor di depan. Tibalah saya di basecamp pemenangan kurang
lebih pada pukul 11 malam dengan kondisi badanbasah kuyup.Saat saya mengucap
salam dan duduk di ruangan tengah bersama tim ini saya tidak sadar bahwa
ternyata ada yang menitikan air mata melihat saya jauh – jauh datang untuk
milihat timnya. Yaa, memang pengalaman selama pemira dalam kampanye ini sarat
akan emosi. Pernah suatu ketika saya akanmemulai debat kedua (terakhir) saya
mengucpakan terimaksih yang sebesar – besarnya kepada tim hebat ini, di dalam
ruangan kelas berwarna cat kuning itu saya menangis tersedu – sedu karena
terharu dengan perjuangan para kawan ang hadir menemani sampai dengan detik
itu.Walaupun tim kami dominan oleh para wanita itu bukanah sebuah halangan.
Saat masa pemira bukan hanya capres dan cawapres saja yang diuji mentalnya oleh
khlayak tapi juga para tim yang yang mendampngi.Salam hormat dan cinta kepada
seluruh tim saya.
Ada beberapa tempat
kenangan yang menjadi saksi bisu pembuatan atau menuju YADI menjadi pres dan
wapres ada warung kecil samping SICC, Rumah Uni Mahkota Raja No.15, Kedai
spatula, Jalan baru untukakses AEON yang menjadi tempat photoshoot, tama budaya
untuk foto, samping gedung kampus, rumah makan cucurak. Bayangan tegang dan
tidak nyaman selalu teringat jika sedang melintas di kampus atau sekedar
teringat. Mengerikan. Bahkan sampai sekarnag, kami tidak memiliki orang – orang
vocal yang berkualitas. Adapun ornag yang di pihak kita adalah kawan –kawan
yang memang jarang menjadi center point di kampus. Artinya orang – orang
pendiam yang tida banyak bergunjing di warung dan tempat tongkrongan. Maka
seringkali dikatakan ekslusif. Ya memang, kerpibadian kami betul – betul
eksklusif. Kami sepertinya butuh amunisiyang bisa membaur ke segala bentuk
medan. Hahah tidakseperti saya yang hanya hebat dalam berimajinasi dan merenung
di tempat yang jauh dari banyak orang. Sungguh menenangkan sekali.
