22/08/19

Kampanye


Saat malam hari hari jumpa dijalan beton menuju SICC denga abang 14 dan kawan yang tdak berhasil dicalonkan saya sudah menyampaikan bahwa saya tahu betul bahwa setelah mengambil langkah ini saya akan memiliki banyak musuh. Padahal sebelumnya saya tidak memiliki masalah dengan siapapun di kampus
.
Hari pertama mengajukan formulir kami langsung dihadang dengan serangkaian aturan yang menyebabkan Hamdi dan saya belum bisa mengajukan formulir KPU. Mulai dari ketua partai HIMMAH yang selalu kabur jika dihampiri sampai pembunuhan karakter secar psikologis yang kami hadapi di awal hari.


Sempat pada hari itu saya mendapatkan sebuah screenshoot dari sebuah group bernama “HMJ Bersatu” yang isinya kurang lebih menyusunstrategi bagaimana caranya agar saya dan Hamdi bahkan tidak lolos dalam tahap pemberkasan.  Ke 4 orang dari semua HMJ ini ada dalam 1 grup itu. Dan mereka semua mengamini untuk tidak meloloskan kami. Mustahil pada saat itu. Ejekan juga terihat dari dalam grup. Tidak ada hal yang positif, semuanya negative dan membuat yang membaca akan langsung iba jika ada di pihak “kita”.

Tim kampanye kami berjumlah sampai dengan 60 orang. Jumlah yang banyak dan terstruktur disbanding tim lawan yang melakukan kampanye dengan penyerangan – penyerangan secara sporadic melali story – story dari orang – orang tongkorongan. Tim kampanye kami dikomandoi oleh saudara Naufal dengan dibina langsung oleh abang –abang yang telah berpengalaman. Tim ini beerja sangat sisteatis dan memiliki jadwal hal yang akan dilakukan sampai dnegan waktu pamira tiba. Ada tim lapangan, tim infiltrator, tim media dan sisanya saya lupa. Mulai dari memasang banner, membagikan stiker, brosur, membuat story serentak itu dikerjakan oleh tim ini. Tim yang angat totitas, militant dan membahagiakan.

Pernah suatu saat ketika saya sedang melaksanakan pengembaraan selama 7 hari di daerah jonggol. Saya merindukan mereka yang selalu larut tidur karena membahas kampanye hari per harinya seperti apa, pemetaan sudah sejauh mana. Tepatnya saat itu jam set 10 malam saya berangkat dari daerah jonggol menuju sentul, Victoria tepatnya dengan dalih mengambilsuatu barang yang tertinggal. Bersama dengan SalmanZuhdi atau baernama rimba saga kami berangkat menujusentul menggunkaan motordan berbekal golok. Bukan main, jalan dari basecamp pengembaraan kita memang sangat terpencil, bahkan sinyal HP tidak bisa diakses disana. Hal yang menyedihkan, kami snagatsulit untuk melakukan komunikasi dengan siapapun diluar dari lokasi pengembaraan. Setibanya disana saya minta diantarkan langsung ke rumah milik uni padang. Yaitu Jalan Mahkota Raja No. 15. Rumah penuh sejarah yang jika saya mengingat rumah itu sampai sekarang romantisme itu terasa kembali. Jalan menuju sentul ternyata hujan, dan kami hanya memiliki 1 buah jas hujan kresek yang dibeli di indomart sebelumnya. Walhasil saya berikan kepada salman saja, karena dia membawa sepeda motor di depan. Tibalah saya di basecamp pemenangan kurang lebih pada pukul 11 malam dengan kondisi badanbasah kuyup.Saat saya mengucap salam dan duduk di ruangan tengah bersama tim ini saya tidak sadar bahwa ternyata ada yang menitikan air mata melihat saya jauh – jauh datang untuk milihat timnya. Yaa, memang pengalaman selama pemira dalam kampanye ini sarat akan emosi. Pernah suatu ketika saya akanmemulai debat kedua (terakhir) saya mengucpakan terimaksih yang sebesar – besarnya kepada tim hebat ini, di dalam ruangan kelas berwarna cat kuning itu saya menangis tersedu – sedu karena terharu dengan perjuangan para kawan ang hadir menemani sampai dengan detik itu.Walaupun tim kami dominan oleh para wanita itu bukanah sebuah halangan. Saat masa pemira bukan hanya capres dan cawapres saja yang diuji mentalnya oleh khlayak tapi juga para tim yang yang mendampngi.Salam hormat dan cinta kepada seluruh tim saya.

Ada beberapa tempat kenangan yang menjadi saksi bisu pembuatan atau menuju YADI menjadi pres dan wapres ada warung kecil samping SICC, Rumah Uni Mahkota Raja No.15, Kedai spatula, Jalan baru untukakses AEON yang menjadi tempat photoshoot, tama budaya untuk foto, samping gedung kampus, rumah makan cucurak. Bayangan tegang dan tidak nyaman selalu teringat jika sedang melintas di kampus atau sekedar teringat. Mengerikan. Bahkan sampai sekarnag, kami tidak memiliki orang – orang vocal yang berkualitas. Adapun ornag yang di pihak kita adalah kawan –kawan yang memang jarang menjadi center point di kampus. Artinya orang – orang pendiam yang tida banyak bergunjing di warung dan tempat tongkrongan. Maka seringkali dikatakan ekslusif. Ya memang, kerpibadian kami betul – betul eksklusif. Kami sepertinya butuh amunisiyang bisa membaur ke segala bentuk medan. Hahah tidakseperti saya yang hanya hebat dalam berimajinasi dan merenung di tempat yang jauh dari banyak orang. Sungguh menenangkan sekali.