Dahulu saya hanya
berani melihatmu dari jauh. Memandangimu penuh kekekaguman, namun jauh disana
kau memiliki pendamping yang semu pada masanya. Hari ke hari selalu saja saya
melihatimu dari jauh dengan rasa berusaha mengikhlaskan dirimu dalam
kebahagiaan yang saya buat. Memanipulasi rasa bahagia demi menjalani diri. Saya
terus mengikhlaskamu sambil berusha ingin memilikimu. Namun semua penjagamu itu
sampai waktu Sekolah Menangah Atas tak kunjung menghilang juga. Selalu saja ada
orang yang mampu memikat hatimu. Sialnya mereka adalah orang – orang yang
bersinar di sekolah. Sangat jauh sosok saya dari kesan bercahaya dan
mengagumkan. Saya hanya kumpulan brandal pendiam yang termarjinalkan oleh anak
– anak ipa yang borjuis dan berkilau sangat terang di sekolah.
Saya sempat menjaga
beberapa orang juga semasa sekolah. Dan
sialnya lagi tidak pernah lama untuk menjaganya. Yang pertama hanya 3 hari,
kedia hanya 4 bulan dan selajutnya hanya 1 hari. Waktu yang sangat singkat yang
cukup menggambarkan bahwa saya adalah seorang penjaga yang penuh kegagalan.
AKhirnya waktu – waktu terus coba saya pupuk menjadi berarti dan bermakna. Demi
menjaga kualitas diri dan membanun masa depan saya coba mengambil langkah –
langkah yang tidak biasa dalam hidup. Yang bahkan orang – orang terkdekat saya
saja sangat terkaget mengetahui bahwa saya ada pada posisi tertentu.
Menyedihkan, tetap saya tidakada yang terlalu menarik dari saya yang hanya
menjalanai masa muda disebuah kampus swasta di bilangan bogor. Kampus yang orang
lain tidak akan sama sekali tahu namanya.
Sampai tiba saat saya
sedang berusaha membuatmu menjadi semu dan pada posisi menjadi penjaga yang
tidak pernah baik saya berusaha untuk berhenti untuk menjadi seorang penjaga
semu bagi semua wanita di seluruh muka bumi. Di dalam diri saya mengazzamkan
diri untuk menjadi seorang pria sejati yang berprinsip halalkan atau tinggalkanI. Di asrama saya, tempat diman saya
mendapatkan secercah cahaya saya mulai memperbaiki dirimenambah ilmu yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang manusia dan pria yang sejati. Disana bayangan
tentangnya hanya muncul beberapa kali sekali, tidak terlalu sering seperti
biasanya. Sampai tiba waktunya saya melihat postingan dia dilaman sebuah media
sosial ternyata dia sudah berubah menjadi sosok yang lebih anggun,sosok yang
pada saat itu membuat saya terpaku tak bergerak melihat kecemerlangannya dan
berusaha keras dalam diri untuk segera manikahinya secara sah. Saya seriuskan
niat itu untuk diwujudkan dalam beberapa tahun setelah lulus dari kampus kecil
ini. Setelah menjadi seorang manusia.
Beberapa kali juga kami
melakukan kontak secara tidak langsung melalui direct messege. Hati saya berkilauan pada masa itu, teringat dia
salah memberikan respon dalam DM dengan memberikan sebuah tanda HATI. Dalam
kesalahan itu saya merasa sedang terbang ke langit. Dalam suatu waktu juga
sempat saya berusaha melakukan proses pendekatan kepada dia dengan cara
menanyakan program – program apa saja yang bisa saya dapatkan di pesantrennya
saat itu. Pembicaraan berangsur beberapa hari. Bahkan pada waktu yang bersamaan
saya memang sedang ada di Bandung. Ke rumah Duggy tepatnya, daerahyang dekat
dengan Darut Tauhid. Saya sempatkan solat disana sambil berkata ingin bertanya
– tanya terlebihdahulu sambil bertemu dia. NAmun dia sedang belanja pada waktu
itu. Saya coba untuk menunggu sesaat sambil menuggu dia belanja perabot.Namun
ternyata hati ini lebih tidak kuat menahanrasa canggung dan deg – deggan untuk
berjumpa dengan sosok permataku yang manis itu. Terimakasih bang Ahmad telah
menemani.
Melalui imajinasi liar
saya seringkali mencoba untuk membayangkan sosoknya yang sangat manis itu.
Bahkan dalam suatu waktu dia pernah mengupload sebuah foto sedang menggendong
bayi, sejenak saya terdiam dan mengimajinerkan bahwa bayi yang sedang dia
gendong adalah buah hati dari saya dengan dia di masa depan. Sangat apik
ingatan itu sampai akhirnya terhapus oleh realita.
Terus, terus dan terus
berlalu semua realita ini. Saya tetap fokus melanjutkan realita saya dengan
menjadi seorang presiden mahasiswa dan mahasiswa yang tidak becus di kampus.
Sampai akhirnya Alhamdulillah masa amanah sayatelah selesai dan waktu liburan
pun telah tiba. Waktu liburan menuju semester 7 ini kuisi dengan praktik magang
di sebuah Badan Amil Zakat di kota Cianjur. Bagai petir menyambar hati
padasuatu malam sosoknya mengirimkan sebuah undangan dengan aksen nuansa krem
dan biru dengan beberapa patah bahasa arab, tanggal, dan tempat. Ya! Itu adalah
undangan walimatul urs. Dia mengkhiri masa sendirinya dengan menikahi seorang
pria yang sedang melanjutkan studi S2 di Institut Teknologi Bandung. Tidak
terlalu tampan, namun masa depannya cukup meyakinkan, dan kepahamannya masi jauh
dari kapasistas saya. Alhamdulillah.
Beberapa hari foto
undangan pernikahan yang ia kirimke grup angkatan itu terngiang – ngiang tepat
dikepala. Bahkan H-2 sebelum akad saya sempat bermimpi bahwa dia sedang dalam
kondisi yang murung karena tidak jadi melanjutkan pernikahannay bersama calon
yang namanya addi surat undangan itu. Dalam kondisi dirinya menunduk sedih saya
melamar dia untuk menjadiisterisaya. Dan dia mau padasaat ditanya.Masih dalam
kondisi yang seperti belum ikhlas, mukanya masih tertunduk dan lusuh. Sebuah
visualisasi mimpi yang sangat aneh. Karena sampai dengan saat saya menuliskan
cerita ini dia masih jelas sosoknya secara jelas dan terkadang membuat saya
tertegun penasaran. NAmun itu hanya mimpi. Sampai dengan hari H semuanya
berjalan dengan lancar. PAda malam harinya saya coba untuk sedikit meringankan
beban hati dengan bercerita dengan Kak Sata, Manteri Kominfo pada masanya. Dia
ternyata berprilaku sangat bijak dengan keluh kesahsaya yang sedang patah hati.
Ya sempat bercita – cita juga untuk menghadiri resepsinya di esok harinya setelah
saya becerita. Tepatnya di gedung KORPRI Kabupaten Cianjur. Yang datang kesana
saya yakini adalah orang orang yang berkilau dari jurusan IPA atau setidaknya
orang – orang yang memiliki masa depan tergambar jelas dari masa sekarang.
Introvert ini tidak memiliki apapun dan teman untuk menemani hadir disana. Jadi
saya putuskan untuk menemani umi ke undangan lainnya. Sepanjang hari saya benar
– benar merasa tidak nyaman untuk bertremu dengan orang banyak. Saya berkata
sesuatu yang sebetulnya tidak usah disampaikan kepada umi. Sebuah sesal yang masih
menempel sampai detik ini.
Tapi, dibalik semua ini
saya sangat bahagia diamendapatkan sosok yang jauh lebih matang dan baik dari
saya pada saat ini. Saya yakin dia sosok yang manis dan lucu itu memang butuh
pendampung yang jelas – jelas lebih dewasa. Alhamdulillah, rasa syukur saya
panjatkan kepada Allah atas takdirnya yang sangat luar biasa.
Selamat menempuh
kehidupan yang lebih membahagiakan dan menenangkan Annisa Fauziah Nur’imaniJ
Saya berhenti mendambakanmu.
