Membangun kepercayaan amatlah susah bagi
setiap orang yang memiliki kepercayaan pada tingkatan elevasi tertentu. Kami
telah mencoba untuk optimis membangun kerajaan kebaikan untuk kampus dan agama
ini “katanya”. Mencoba melanjutkan alurnya dari awal pembentukan oleh senior
bagi saya adalah suatu kehormatan. Apalagi kekalahan dan kegagalan beberapa
waktu lalu di kampus dan luar kampus adalah sebuah gigitan keras yang
menyakitkan bagi saya. Sampai saat ini pikiran tidak pernah bisa berhenti
menelaah setiap factor – factor penyebab kegagalan saya. Saya merasa sangat
menjadi remeh temeh. Walaupun kalian semua tahu saya pun dicalonkan bukan atas dasar
kemampuan saya yang dilihat oleh senior dari awal/bentuk pengkadern. Melainkan
melalui musyawarah terbatas yang mengisyaratkan “kita” harus mengamankan posisi
penting. Dua tahun belakangan ini saya seringkali dijadikan martir oleh tuhan.
Saat ini pemilihan DPM telah berlalu, dan kami berhasil memenangkan 9 kursi dari 17 kursi yang tersedia di DPM. Sedikit bisa lebih berbahagia karena dominasi kita nampaknya cukup (8:9). Buah hasil dari berpikir dan beradu argument. Ekspektasi saya dengan hasil ini akan mempermudah agenda kedepannya. Dua tahun kebelakang DPM memang tidak kita maksimalkan sama sekali. Cukup disayangkan. Dan tahun ini adalah buah dari blunder yang dilakukan oleh senior kita.
Tapi, kebahagian ini hampir menjadi
kecewa yang berkepanjangan. Kami nyatanya memang kehilangan kader kader
potensial didalamya. Kami yang dikenal adalah ia yang totalitas, militant dan
selalu membawa agenda kebaikan. Nyatanya sekarang kami hanya sekedar menjadi
pemanis taman demokrasi di kampus. Dia berjumlah banyak namun tidak
mempengaruhi tatanan yang ada. Seperti perumpamaan rasul. Kami hanya menjadi
buih dilautan.
H – 1 Sebelum musyawarah akbar dilakukan
saya memperoleh kabar yang sangat mengecewakan. Impian yang telah dicapai dari
hasil pemira untuk mendominasi DPM nampaknya akan berbuah penelanan ludah.
Anggota kita didalamnya berkurang 2 orang. Yang berarti kami tidak lagi
melakukan dominasi dalam internar DPM (7:8). Anggota yang pertama, ia tidak
pernah membuka keran komunikasi dengan saya pribadi maupur komisariat hingga
akhirnya muncul kabar bahwa yang bersnagkutan dibutuhkan oleh organisasi lain
di kampus. Yang kedua pergi dia memang orang yang saya kenal plin plan dan dari
awal saya telah coba bersihkan namanya dengan meyakinkan senior dan kawan
internal. Namanya hangus akibat ketidak bertanggungjawabannya terhadap tugas
yang dia emban ketikadi DPM. Saya sangat muak mendengar semua ini. Reformasi
DPM untuk melakukan diaspora didalamnya menghasilkan hasil yang sangat pahit.
Bahkan ketika tembakan keudara belum dilontarkan. Banyak orang yang telah
berusaha berjuang untuk membantu mereka masuk kedalamnya dengan mengorbankan
apa yang ia miliki. Cinta orang – orang yang telah berjuang ini memanglah hal
yang paling mahal yang harus ditebus dengan kontribusi yang maksimal oleh semua
orang. Menghabiskan waktu memikirkan jalan keluar dari masalah – masalah yang
telah timbul tidak sebercanda itu. Cinta memang akan meminta segalanya darimu,
bahkan meminta apa yang kau belum kau miliki sebelumnya.
Saya terus akan menanamkan kepercayaan
saya kepada tuhan. Telah terlalu lama dan jauh saya berekspektasi dengan orang
– orang di dalam sini. Tapi hasilnya adalah hasil yang sangat mengecewakan. Dia
yang hadir dalam kehangatan perjuangan adalah orang yang telah memahami
konklusi dari semuanya dan tidak menuntut untu meminta imbalan atas kontribusi
mereka. Menghargai perjuangan orang yang berjuang dijalan ini adalah kunci
untuk kamu mencintai dan memahai semua yang kita lakukan. Dan nampaknya saya
overdosis menelan “cinta” ini tanpa sandaran yang kuat.
