16/06/19

Bercanda


Membangun kepercayaan amatlah susah bagi setiap orang yang memiliki kepercayaan pada tingkatan elevasi tertentu. Kami telah mencoba untuk optimis membangun kerajaan kebaikan untuk kampus dan agama ini “katanya”. Mencoba melanjutkan alurnya dari awal pembentukan oleh senior bagi saya adalah suatu kehormatan. Apalagi kekalahan dan kegagalan beberapa waktu lalu di kampus dan luar kampus adalah sebuah gigitan keras yang menyakitkan bagi saya. Sampai saat ini pikiran tidak pernah bisa berhenti menelaah setiap factor – factor penyebab kegagalan saya. Saya merasa sangat menjadi remeh temeh. Walaupun kalian semua tahu saya pun dicalonkan bukan atas dasar kemampuan saya yang dilihat oleh senior dari awal/bentuk pengkadern. Melainkan melalui musyawarah terbatas yang mengisyaratkan “kita” harus mengamankan posisi penting. Dua tahun belakangan ini saya seringkali dijadikan martir oleh tuhan.


Saat ini pemilihan DPM telah berlalu, dan kami berhasil memenangkan 9 kursi dari 17 kursi yang tersedia di DPM. Sedikit bisa lebih berbahagia karena dominasi kita nampaknya cukup (8:9). Buah hasil dari berpikir dan beradu argument. Ekspektasi saya dengan hasil ini akan mempermudah  agenda kedepannya. Dua tahun kebelakang DPM memang tidak kita maksimalkan sama sekali. Cukup disayangkan.  Dan tahun ini adalah buah dari blunder yang dilakukan oleh senior kita.

Tapi, kebahagian ini hampir menjadi kecewa yang berkepanjangan. Kami nyatanya memang kehilangan kader kader potensial didalamya. Kami yang dikenal adalah ia yang totalitas, militant dan selalu membawa agenda kebaikan. Nyatanya sekarang kami hanya sekedar menjadi pemanis taman demokrasi di kampus. Dia berjumlah banyak namun tidak mempengaruhi tatanan yang ada. Seperti perumpamaan rasul. Kami hanya menjadi buih dilautan.

H – 1 Sebelum musyawarah akbar dilakukan saya memperoleh kabar yang sangat mengecewakan. Impian yang telah dicapai dari hasil pemira untuk mendominasi DPM nampaknya akan berbuah penelanan ludah. Anggota kita didalamnya berkurang 2 orang. Yang berarti kami tidak lagi melakukan dominasi dalam internar DPM (7:8). Anggota yang pertama, ia tidak pernah membuka keran komunikasi dengan saya pribadi maupur komisariat hingga akhirnya muncul kabar bahwa yang bersnagkutan dibutuhkan oleh organisasi lain di kampus. Yang kedua pergi dia memang orang yang saya kenal plin plan dan dari awal saya telah coba bersihkan namanya dengan meyakinkan senior dan kawan internal. Namanya hangus akibat ketidak bertanggungjawabannya terhadap tugas yang dia emban ketikadi DPM. Saya sangat muak mendengar semua ini. Reformasi DPM untuk melakukan diaspora didalamnya menghasilkan hasil yang sangat pahit. Bahkan ketika tembakan keudara belum dilontarkan. Banyak orang yang telah berusaha berjuang untuk membantu mereka masuk kedalamnya dengan mengorbankan apa yang ia miliki. Cinta orang – orang yang telah berjuang ini memanglah hal yang paling mahal yang harus ditebus dengan kontribusi yang maksimal oleh semua orang. Menghabiskan waktu memikirkan jalan keluar dari masalah – masalah yang telah timbul tidak sebercanda itu. Cinta memang akan meminta segalanya darimu, bahkan meminta apa yang kau belum kau miliki sebelumnya.

Saya terus akan menanamkan kepercayaan saya kepada tuhan. Telah terlalu lama dan jauh saya berekspektasi dengan orang – orang di dalam sini. Tapi hasilnya adalah hasil yang sangat mengecewakan. Dia yang hadir dalam kehangatan perjuangan adalah orang yang telah memahami konklusi dari semuanya dan tidak menuntut untu meminta imbalan atas kontribusi mereka. Menghargai perjuangan orang yang berjuang dijalan ini adalah kunci untuk kamu mencintai dan memahai semua yang kita lakukan. Dan nampaknya saya overdosis menelan “cinta” ini tanpa sandaran yang kuat.