Cinta lagi, cinta lagi. Nampaknya
ada yang aneh beberapa waktu terakhir. Cara pandangku terhadapnya semakin tak
terkendali. Ada hal yang lebih nampaknya dari rasa yang ada. Perhatiannya
terhadap beberapa hal kecil membuat saya terbawa perasaan. Waktu ke waktu
membuatku seringkali menanyakan hal – hal yang tidak penting atau bahkan hanya
sekedar mencari bahasan terhadap hal – hal yang tidak perlu dibahas. Beberapa
waktu terakhir saya merasakan mulai kurang nyaman dengan perasaan ini.
Profesionalitas berubah orientasi.
Beruntung sudah semenjak kurang
lebih 2 minggu saya merasakan kenaehan ini, zat netral nampaknya mulai
automatis teraktifkan dalam diri ini.
Namun, setalah zat netral
teraktifkan munculah bayangan lain yang ada di buku binder kampus bewarana
hijau muda yang saya beli semenjak tahun pertama. Fotonya bersama dengan saya
ketika di depan tempat foto studio di akhir wisuda SMA membawa kembali mendalam
bayangan tersebut. Dirinya saya tahu sudah berada di suatu tempat yang lebih
baik daripada apa yang saya ketahui dahulu kala. Bahkan saya saat ini minder
untuk sekedar menatap fotonya di instagram. Hijabnya sudah semakin panjang, tak ada lagi
aurat yang terlihat seperti dahulu kala, senyumnya semakin manis. Parah, aku
semakin tertarik untuk meminangnya.
Saat ini tengah hujan, tepat di
depan saya ada sebuah jendela dua pintu dengan pemandangan redup menuju gelap
hitam. Saya mulai hidup. Malam adalah kehidupan sebenarnya dan saya masih
berusaha mencari – cari diksi yang tepat untuk hari esok. Karena hidup ini
adalah kata – kata, kau harus bisa menghamba segalanya dengan kata, dan kalimat
sampai tujuan tercapai. Hal yang dibahas nonformal dibelakang forum harus
selalu diformalkan dengan bersih dan tanpa sisa. Sehingga tidak menimbulkan
pertanyaan – pertanyaan yang meragukan pergerakan.
Saya semakin yakin bahwa saya
semakin membutuhkannya, tempat untuk merebahkan lelah, yang berwujud berasal
dari ciptaanNya akan sangat membantu hari – hari saya. Saya membayangkan setiap
saya akan menghadapi hari – hari yang keras dia memberikan senyuman manisnya
sembari merapikan kemeja yang saya kenakan yang akan lusuh di ujung waktu. Di
ujung hari dia menyambutku dengan senyumnya kembali sambil memeluk hangat
tubuhku yang letih tak berujung. Dimalam hari dia adalah tempatku merebahkan
kisah sehari hari selain sejadah. Indah sekali. Belum lagi ketika kami memiliki
buah hati yang sangat lucu, dan tumbuh menjadi manusia tangguh dimasanya.
Cita – cita ini begitu indah, mecintainya
adalah anugerah. Namun saya belum siap. Selesai urusan ini saya akan mempersiapkannya. Bismillah.
