Kita sepakat bahwa pembicaraan yang tidak akan ada habisnya
dan selalu menarik adalah tentang masadepan. Bahkan ketika kita kecil
pembicaraan yang paling seru pun membicarakan terkait cita – cita. Pada masa
itu kita berlomba – lomba untuk memiliki cita – cita yang paling “keren”.
Padahal pada detik itu kita semua taubahwa apa yang kita katakan masih jauh
dari realita, picisan itu adalah isyarat bahwa kita masa itu adalah masa yang
palinga ringan untuk kita bebas berbicara hal – hal yang nampaknya sekarang
sangatmustahil kita lakukan.
Perjalanan yang panjang disertai dengan berbagai realita yang
sebelumnya terbelenggu perlahan menghapuskan keyakinan diri untuk mencapai apa
yang sebenarnya jauh telah di optimiskan akan dengan mudah terlakoni. Bukan
main, sebuah harapan besar dan dambaan yang direncanakandari sejak kita kecil
berudah 360 derajat bahkan menghilang dari dalam pikiran kita bayangannya.
Itupun yang saat ini mendera saya. Ternyata dunia ini begitu
luas, bahkan beberapa bagian tidak dapat dijangkau. Tapi sampai dengan waktu
ini dengan luasnya dunia, saya selalu bertanya mengapa masih banyak orang yang
memiliki ruang pandang yang sempit dalam menilai suatu objek yang bahkan tidak
ada bandingannya dengan ukuran dunia yang tidak dapat terangkum oleh pikiran.
Khayalan tingkat rendah merusak semua pendapat murni setiap manusia yang ada
dibumi, hati dan ego dijadikansebagai sarana utama untuk berpikir dan
menyimpulkan perkara. Manusia – manusia ini nampaknya belum erbiasa melihat
dunia luar yang sangat luas dan sarat akan ilmu yang tidak didapatkan di kelas –
kelas dingin ber AC dengan biaya tinggi itu. Saya terkadang malu, manun juga
miris melihat bagaimana orang dilingkungan ini sangat sempit dan miskin sudut
pandang. Mengkorelasikan antara pendapat satu dengan pendapat lainnya ajakali
dijadikansebuah landasan dalam berpikir tanpa ada pendapat dari pihak yang
dijadikan onjeknya secara langsung. Mungkin jaman telah mengungkung kita
menjadi sedemikian rupa pengecut untuk menyatakandan menanyakanlangsung kepada
pihak – pihak yang dimaksud. Bahkan beberapa pihak tidak mengetahui mengapa
mereka memilikilandasan berpikir yang sedemikian rupa. Pembenaranakan dalil
bibir kawan, kaka tingkat, dll lebih dipercaya daripada menghimpun data yang actual
langsung darisumbernya. Hakikat kebenaran sudah tidak akan digunakan kembali
selama masih ada sepercik kebencian yang bertengger di dalam diri.
Proses pendewasaan memang memakan waktu yang lama, proses
yang kejam harus dilewati, pencarian jati diri harus diiringi dengan orientasi
yang terukur, visi yang presisi dan hati yang murni. Hujaman yang pedih adalah
salah satu bentuk kasih sayang tuhan kepada serpihan kecil di semestanya yang
terus pasrah, berharap dengan dada yang lapang dan jiwa yang besar. Mengikat makna pada udara adalah hal yang
fana. Skeptis tiada ujung juga adalah kebodohan belaka. Yang terpenting
pandangan lurus kedepan, lakukan kebajikan sesuai agenda, siapkan diri untuk
segala kemungkinan. Petualangan ini memang tiada ujungnya, kesabaran adalah teman
setia yang tidak akan pergi. Tuhan bersama petualang sejati.
Tempat yang paling nyaman untuk bernaung adalah rumah,
kehangatan menyelimuti di dalam kedinginan yang akut. Penyakit sedang menunggu
waktu yang tepat untuk menjagkit, siapkan pertahanan tubuh. Jangan lupa juga
untuk mencium tanah dengan dahi dan hidungmu. Disana ada keajaiban. Percayalah!
Percayalah!
Skeptis hilang menuju benderang, dogma sakit hati hilang
pastila kitasenang, percayalah, yakinilah tuhan bersama petualang sejati.