02/01/19

Berhenti Skeptis



Kita sepakat bahwa pembicaraan yang tidak akan ada habisnya dan selalu menarik adalah tentang masadepan. Bahkan ketika kita kecil pembicaraan yang paling seru pun membicarakan terkait cita – cita. Pada masa itu kita berlomba – lomba untuk memiliki cita – cita yang paling “keren”. Padahal pada detik itu kita semua taubahwa apa yang kita katakan masih jauh dari realita, picisan itu adalah isyarat bahwa kita masa itu adalah masa yang palinga ringan untuk kita bebas berbicara hal – hal yang nampaknya sekarang sangatmustahil kita lakukan.


Perjalanan yang panjang disertai dengan berbagai realita yang sebelumnya terbelenggu perlahan menghapuskan keyakinan diri untuk mencapai apa yang sebenarnya jauh telah di optimiskan akan dengan mudah terlakoni. Bukan main, sebuah harapan besar dan dambaan yang direncanakandari sejak kita kecil berudah 360 derajat bahkan menghilang dari dalam pikiran kita bayangannya.

Itupun yang saat ini mendera saya. Ternyata dunia ini begitu luas, bahkan beberapa bagian tidak dapat dijangkau. Tapi sampai dengan waktu ini dengan luasnya dunia, saya selalu bertanya mengapa masih banyak orang yang memiliki ruang pandang yang sempit dalam menilai suatu objek yang bahkan tidak ada bandingannya dengan ukuran dunia yang tidak dapat terangkum oleh pikiran. Khayalan tingkat rendah merusak semua pendapat murni setiap manusia yang ada dibumi, hati dan ego dijadikansebagai sarana utama untuk berpikir dan menyimpulkan perkara. Manusia – manusia ini nampaknya belum erbiasa melihat dunia luar yang sangat luas dan sarat akan ilmu yang tidak didapatkan di kelas – kelas dingin ber AC dengan biaya tinggi itu. Saya terkadang malu, manun juga miris melihat bagaimana orang dilingkungan ini sangat sempit dan miskin sudut pandang. Mengkorelasikan antara pendapat satu dengan pendapat lainnya ajakali dijadikansebuah landasan dalam berpikir tanpa ada pendapat dari pihak yang dijadikan onjeknya secara langsung. Mungkin jaman telah mengungkung kita menjadi sedemikian rupa pengecut untuk menyatakandan menanyakanlangsung kepada pihak – pihak yang dimaksud. Bahkan beberapa pihak tidak mengetahui mengapa mereka memilikilandasan berpikir yang sedemikian rupa. Pembenaranakan dalil bibir kawan, kaka tingkat, dll lebih dipercaya daripada menghimpun data yang actual langsung darisumbernya. Hakikat kebenaran sudah tidak akan digunakan kembali selama masih ada sepercik kebencian yang bertengger di dalam diri.

Proses pendewasaan memang memakan waktu yang lama, proses yang kejam harus dilewati, pencarian jati diri harus diiringi dengan orientasi yang terukur, visi yang presisi dan hati yang murni. Hujaman yang pedih adalah salah satu bentuk kasih sayang tuhan kepada serpihan kecil di semestanya yang terus pasrah, berharap dengan dada yang lapang dan jiwa yang besar.  Mengikat makna pada udara adalah hal yang fana. Skeptis tiada ujung juga adalah kebodohan belaka. Yang terpenting pandangan lurus kedepan, lakukan kebajikan sesuai agenda, siapkan diri untuk segala kemungkinan. Petualangan ini memang tiada ujungnya, kesabaran adalah teman setia yang tidak akan pergi. Tuhan bersama petualang sejati.

Tempat yang paling nyaman untuk bernaung adalah rumah, kehangatan menyelimuti di dalam kedinginan yang akut. Penyakit sedang menunggu waktu yang tepat untuk menjagkit, siapkan pertahanan tubuh. Jangan lupa juga untuk mencium tanah dengan dahi dan hidungmu. Disana ada keajaiban. Percayalah! Percayalah!

Skeptis hilang menuju benderang, dogma sakit hati hilang pastila kitasenang, percayalah, yakinilah tuhan bersama petualang sejati.