Sudah setengah jalan berjalan di jalan yang panjang ini.
Spektrum warna masalah semakin kompleks, warna warna yang belum pernah dilihat
sebelumnya kini muncul dihadapan mata dan harus segera diselesaikan. Warna ini ingin rasanya dikonversi saja
menjadi dua warna, yaitu warna hitam dan putih sehingga warna jingga, hijau
kelabu, kuning langsat, kuning telur, dll tidak pernah terlihat di mata ini.
Sebisannya warna – warna ini saya urai menjadi lembaran warna
yang jelas terlihat dan tidak menghancurkan warna - warna yang lain. Ada kalanya
mengurai warna ini artinya menelaah bahkan mempelelajarinya lagi dari titik
nol. Ku pelajari hari demi hari, detik demi detik sehingga dapat kusimpulkan
beberapa garis besar untuk semua permasalahan yang kini hadir dalam masa – masa
perjuangan ini. Hanya ada dua kategori, masalah yang hadir dari hasil rekayasa
orang lain dan masalah yang muncul karena murni tercipta sendiri tanpa
direncanakan. Hah? Rekayasa orang lain?
Maksudnya? Nanti aka nada titik dimana kalian sudah ada di urutan tangga tinggi
masalah ini akan kalian miliki. Persiapkan saja, ini nyata. Semoga kalian tidak
parno hehe.
Dari awal saya bersama Hamdi meniatkan untuk membuka gerbang
besar ini saya sudah tahu ada banyak jurang yang harussaya lewati ada banyak
musuh yang menintai, ada banyak anak panah mematikan yang sedang diarahkan ke
kepala. Dalam beberapa bulan setelah kami dinyatakan menang (re: terpilih)
untuk menjadi pemimpin gerbong besar ini di kampus kami belum terlalu merasakan
anak panah itu menyasar kepala kami. Namun, saya mengetahui dan sadar betul
bahwa mereka sedangmengasah pisau tajamnya yang akan di rangkai bersama dengan
bada busur panah yang akan dilesatkan dengan busurnya di saat masanya tiba.
Masa tersebut nampaknya mulai mendekat, beberapa serutan
bilah bambu yang dibuat untuk menembak mati kami sempat terdengar beberapa
kali. Bahkan serangan pertama pun telah dilakukan, dan sukses membuat kami
pincang. Beberapa hal yang menjadi kekuatan besar seorang presiden dihapuskan
dalam forum yang “katanya” musyawarah istimewa. Beberapa kali saya jelaskan
tupoksi dan urgensinya ranah tersebut. Namun dalih memindahkan kekuatan ke
fungsi yang lain dijadikan sebuah landasan untuk mengapuskannya. Forum itu berjalan beberapa hari. Dari yang
sebetulnya bisa dilakukan untuk merumuskan dan mensahkan beberapa ajuan hukum dalam
beberapa jam saja karena memang yang
“katanya” Dewan Perwakian Mahasiswa ini sudah mensatukan suara. Danmenjadi hal
yang mustahil untuk siapapun merubah keputusannya. Karena selaku peserta penuh
merekalah yang berhak mengesahkan perubahan – perubahan yang terjadi. Kita
sebagai peserta peninjau hanya berhak mengajukan pendapat dan argument.
Mungkin saya harus menjelaskan dulu kondisinya. Dewan
Perwakilan Mahasiswa atau biasa disingkat DPM adalah sebuah badan otonom yang
memiliki fungsi legislative di dalam ranah kampus. Mereka berhak mengajukan
rancangan undang – undang. Permasalah besar adalah ketika “perwakilan
mahasiswa” yang seharusnya diambil dari beberapa jurusan (re: Fraksi) yang mewakili
suara dan kepentingan mahasiswa dari setiap jurusan dikondisikan dengan
sedemikian rupa hingga mereka bergerak dalam satu suara yang terakomodir oleh
beberapa pihak saja. Berbeda dengan system Trias Politica yang ditetapkan di
Indonesia. Bahwa dalam DPR RI ada beberapa fraksi yang diambil dari partai –
partai yang berbeda sehingga memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda.
Sehigga pembentukan sebuah rancangan undang – undang akan mendapatkan banyak
rasional dan disahkan menjadi sebuah undang undang yang berlaku ketika suara
seluruh atau mayoritas pengisi parlemin mufakat dengan hasil yang dibahas.
Sayasadari bahwa ini merupakan iklim prjalanan yang akan
sangat panjang dan tidak sehat lagi sampai masa kepengurusan kami berakhir.
Tidak ada yang dapat dilakukan kembali selain memohon kepada tuhan dan teru
merancang rencana kedepan yang bisa dikerjakan untuk masa depan organisasi yang
lebih baik. Satu hal yang selalu menempel didalam benak bahwa perjalanan berat
ini memang tidak akan habisnya, dan serangan bertubi – tubi yang telah
menghujam dan akan datang tidak boleh membuat diri ini gentar apalagi takut
sampai berhenti melangkah. Seandainya saya harus meregang nyawa dalam perjalan
ini pun nampaknya saya siap, karena tujuan tertinggi yang telah ditetapkan
semenjak awal telah membuat jiwa saya kuat sampai ke tulang – belulang. Hidup
mulia atau mati syahid mendapat surga.