31/12/18

Spektrum Lain



Sudah setengah jalan berjalan di jalan yang panjang ini. Spektrum warna masalah semakin kompleks, warna warna yang belum pernah dilihat sebelumnya kini muncul dihadapan mata dan harus segera diselesaikan.  Warna ini ingin rasanya dikonversi saja menjadi dua warna, yaitu warna hitam dan putih sehingga warna jingga, hijau kelabu, kuning langsat, kuning telur, dll tidak pernah terlihat di mata ini.

Sebisannya warna – warna ini saya urai menjadi lembaran warna yang jelas terlihat dan tidak menghancurkan warna - warna yang lain. Ada kalanya mengurai warna ini artinya menelaah bahkan mempelelajarinya lagi dari titik nol. Ku pelajari hari demi hari, detik demi detik sehingga dapat kusimpulkan beberapa garis besar untuk semua permasalahan yang kini hadir dalam masa – masa perjuangan ini. Hanya ada dua kategori, masalah yang hadir dari hasil rekayasa orang lain dan masalah yang muncul karena murni tercipta sendiri tanpa direncanakan.  Hah? Rekayasa orang lain? Maksudnya? Nanti aka nada titik dimana kalian sudah ada di urutan tangga tinggi masalah ini akan kalian miliki. Persiapkan saja, ini nyata. Semoga kalian tidak parno hehe.

Dari awal saya bersama Hamdi meniatkan untuk membuka gerbang besar ini saya sudah tahu ada banyak jurang yang harussaya lewati ada banyak musuh yang menintai, ada banyak anak panah mematikan yang sedang diarahkan ke kepala. Dalam beberapa bulan setelah kami dinyatakan menang (re: terpilih) untuk menjadi pemimpin gerbong besar ini di kampus kami belum terlalu merasakan anak panah itu menyasar kepala kami. Namun, saya mengetahui dan sadar betul bahwa mereka sedangmengasah pisau tajamnya yang akan di rangkai bersama dengan bada busur panah yang akan dilesatkan dengan busurnya di saat masanya tiba.

Masa tersebut nampaknya mulai mendekat, beberapa serutan bilah bambu yang dibuat untuk menembak mati kami sempat terdengar beberapa kali. Bahkan serangan pertama pun telah dilakukan, dan sukses membuat kami pincang. Beberapa hal yang menjadi kekuatan besar seorang presiden dihapuskan dalam forum yang “katanya” musyawarah istimewa. Beberapa kali saya jelaskan tupoksi dan urgensinya ranah tersebut. Namun dalih memindahkan kekuatan ke fungsi yang lain dijadikan sebuah landasan untuk mengapuskannya.  Forum itu berjalan beberapa hari. Dari yang sebetulnya bisa dilakukan untuk merumuskan dan mensahkan beberapa ajuan hukum dalam beberapa jam  saja karena memang yang “katanya” Dewan Perwakian Mahasiswa ini sudah mensatukan suara. Danmenjadi hal yang mustahil untuk siapapun merubah keputusannya. Karena selaku peserta penuh merekalah yang berhak mengesahkan perubahan – perubahan yang terjadi. Kita sebagai peserta peninjau hanya berhak mengajukan pendapat dan argument.

Mungkin saya harus menjelaskan dulu kondisinya. Dewan Perwakilan Mahasiswa atau biasa disingkat DPM adalah sebuah badan otonom yang memiliki fungsi legislative di dalam ranah kampus. Mereka berhak mengajukan rancangan undang – undang. Permasalah besar adalah ketika “perwakilan mahasiswa” yang seharusnya diambil dari beberapa jurusan (re: Fraksi) yang mewakili suara dan kepentingan mahasiswa dari setiap jurusan dikondisikan dengan sedemikian rupa hingga mereka bergerak dalam satu suara yang terakomodir oleh beberapa pihak saja. Berbeda dengan system Trias Politica yang ditetapkan di Indonesia. Bahwa dalam DPR RI ada beberapa fraksi yang diambil dari partai – partai yang berbeda sehingga memiliki kepentingan dan pandangan yang berbeda. Sehigga pembentukan sebuah rancangan undang – undang akan mendapatkan banyak rasional dan disahkan menjadi sebuah undang undang yang berlaku ketika suara seluruh atau mayoritas pengisi parlemin mufakat dengan hasil yang dibahas.

Sayasadari bahwa ini merupakan iklim prjalanan yang akan sangat panjang dan tidak sehat lagi sampai masa kepengurusan kami berakhir. Tidak ada yang dapat dilakukan kembali selain memohon kepada tuhan dan teru merancang rencana kedepan yang bisa dikerjakan untuk masa depan organisasi yang lebih baik. Satu hal yang selalu menempel didalam benak bahwa perjalanan berat ini memang tidak akan habisnya, dan serangan bertubi – tubi yang telah menghujam dan akan datang tidak boleh membuat diri ini gentar apalagi takut sampai berhenti melangkah. Seandainya saya harus meregang nyawa dalam perjalan ini pun nampaknya saya siap, karena tujuan tertinggi yang telah ditetapkan semenjak awal telah membuat jiwa saya kuat sampai ke tulang – belulang. Hidup mulia atau mati syahid mendapat surga.