Elegi patah hati membakar matahari, sayangnya energy itu
tidak sekuat laut. Jika Chairil Anwar berkata ingin hidup 1000 tahun lagi, maka
saya ingin hidup hanya 1 tahun. Lebih dan kurang dinikmati sambil membakar genta yang jahat. Saya sadari sejak sarunika
itu hadir, pasti semuanya akan menjadi sawala yang tidak akan habis. Senadika
itu mungkin tidak akan bisa terdengar. Namun jika dirasa akan terdengar indah
kawan. Mari bersama menjahit luka dalam siang hingga swastamita tiba dari
timur.
Sejujurnya saya lebih suka merangkai kata – kata tidak
beraturan yang disusun menjadi paragraph – paragraph yang akan menimbulkan
banyak sudut pandang yang abstrak. Dibandingkan merangkai masa depan yang belum
jelas dan pada akhirnya kita harus selalu mengejar kemana masa depan ini akan
melaju. Tidak dapat dipungkiri bahwa matrial adalah penopang sebuah
kebahagiaan. Namun ketika material ini sudah menjadi sebuah ‘isme’, semua yang
kita kerjakan tak layaknya seekor budak dunia.
Pertanyaannya adalah, sebetulnya kita ini siapa? Dan sedang
apa?
Homo sapiens ini diberikan banyak sekali anugerah – anugerah
yang tidak masuk akal untuk makhluk yang tidak memiliki gelar Al – Khaliq. Kita
sampai pada nadir bisa merasakannya. Yang paling penting menurut saya adalah
kemampua merasa. Tak ayalnya seorang binatang manusia yang tidak bisa merasa
dan sudah pasti hidupnya semakin tidak memiliki koordinat yang pasti.
Rasalah yang pada akhirnya membuat saya sangat mengasihi
orang – orang yang berharga dalam hidup ini. Saya tidak mau hipokrit, terkadang
rasa ini overload sehingga sudah tidak bisa masuk akal. Keberadaan akal sehat
bisa saja raib dalam waktu jutaan mili detik cepatmya saat barometer rasa ini
pecah dan melebihi ambang batas. Lucu saat seorang manusia bisa mengasihi
manusia lain tanpa ada rasa skeptic terhadap keberadaan seluruh orientasi
peradaban manusia yang sebetulnya sudah memiliki yang terkasih. Terkadang batu
sungai diam untuk terhanyut menunggu gelombang pasang sungai yang keras menuju
hilir air.
Kembali lagi ke topic, saya saat ini sedang dalam keadaan
bimbang tak beraturan karena jujur saja kendali tak sepenuhnya ada di tangan
ini. Melainkan hanya akan menimbulkan prasangka – prasangka yang berbahaya jika
dipikirkan lebih jauh secara pragmatis. Maka saya bisa katakan PERSETAN DENGAN
PARADIGMA ORANG LAIN! Saya bukan tipikal orang yang meledak – ledak namun
situasi dan kondisi bisa saya membuat saya mengeluarkan sifat binatang yang
telah lama dikubur dalam. Jadi mohon bantu dalam bentuk apapun, jangan buat
saya berfikir untuk menghabisi separuh hidup anda yang penuh keangkuhan
dihadapan saya. Menjatuhkan martabat dan menikam saya dari belakang nampaknya
sudah cukup untuk membuat saya benar – benar menjadi hewan.
Hehe terkadang diksi yang dibaca memang tak asik dan terkesan
mengancam, namun ya beginiliah tulisan liar yang memang dikeuarkan dari batin
yang sedang tidak dalam keadaan tersinkronkan dengan reaita kepercayaan yang
saya anut dan percayai.
Lengkap sudah, tampan, tinggi semampai, adorable value,
apalah guna sayap ini? Lebih suka menghabiskan malamnya dalam kandang hingga
esok hari. Kecuali panggilan – panggilan langit ditengah riuh memanggil. Pasti
akan saya cari sampai pelosok negeri. Ngeri kawan jika sudah bicara patah hati!
BANGSAT! Sudah lama tidak saya sampaikan kalimat bengis ini. Menjadi presiden
membuat saya menjadi sedikit terkendali. Terimakasih semesta, alam raya dan
tipu daya. Saya bebas berkata!
