12/11/11

Elegi Bengis Bimbang



Elegi patah hati membakar matahari, sayangnya energy itu tidak sekuat laut. Jika Chairil Anwar berkata ingin hidup 1000 tahun lagi, maka saya ingin hidup hanya 1 tahun. Lebih dan kurang dinikmati sambil membakar  genta yang jahat. Saya sadari sejak sarunika itu hadir, pasti semuanya akan menjadi sawala yang tidak akan habis. Senadika itu mungkin tidak akan bisa terdengar. Namun jika dirasa akan terdengar indah kawan. Mari bersama menjahit luka dalam siang hingga swastamita tiba dari timur.

Sejujurnya saya lebih suka merangkai kata – kata tidak beraturan yang disusun menjadi paragraph – paragraph yang akan menimbulkan banyak sudut pandang yang abstrak. Dibandingkan merangkai masa depan yang belum jelas dan pada akhirnya kita harus selalu mengejar kemana masa depan ini akan melaju. Tidak dapat dipungkiri bahwa matrial adalah penopang sebuah kebahagiaan. Namun ketika material ini sudah menjadi sebuah ‘isme’, semua yang kita kerjakan tak layaknya seekor budak dunia.

Pertanyaannya adalah, sebetulnya kita ini siapa? Dan sedang apa?
Homo sapiens ini diberikan banyak sekali anugerah – anugerah yang tidak masuk akal untuk makhluk yang tidak memiliki gelar Al – Khaliq. Kita sampai pada nadir bisa merasakannya. Yang paling penting menurut saya adalah kemampua merasa. Tak ayalnya seorang binatang manusia yang tidak bisa merasa dan sudah pasti hidupnya semakin tidak memiliki koordinat yang pasti. 
Rasalah yang pada akhirnya membuat saya sangat mengasihi orang – orang yang berharga dalam hidup ini. Saya tidak mau hipokrit, terkadang rasa ini overload sehingga sudah tidak bisa masuk akal. Keberadaan akal sehat bisa saja raib dalam waktu jutaan mili detik cepatmya saat barometer rasa ini pecah dan melebihi ambang batas. Lucu saat seorang manusia bisa mengasihi manusia lain tanpa ada rasa skeptic terhadap keberadaan seluruh orientasi peradaban manusia yang sebetulnya sudah memiliki yang terkasih. Terkadang batu sungai diam untuk terhanyut menunggu gelombang pasang sungai yang keras menuju hilir air.

Kembali lagi ke topic, saya saat ini sedang dalam keadaan bimbang tak beraturan karena jujur saja kendali tak sepenuhnya ada di tangan ini. Melainkan hanya akan menimbulkan prasangka – prasangka yang berbahaya jika dipikirkan lebih jauh secara pragmatis. Maka saya bisa katakan PERSETAN DENGAN PARADIGMA ORANG LAIN! Saya bukan tipikal orang yang meledak – ledak namun situasi dan kondisi bisa saya membuat saya mengeluarkan sifat binatang yang telah lama dikubur dalam. Jadi mohon bantu dalam bentuk apapun, jangan buat saya berfikir untuk menghabisi separuh hidup anda yang penuh keangkuhan dihadapan saya. Menjatuhkan martabat dan menikam saya dari belakang nampaknya sudah cukup untuk membuat saya benar – benar menjadi hewan.

Hehe terkadang diksi yang dibaca memang tak asik dan terkesan mengancam, namun ya beginiliah tulisan liar yang memang dikeuarkan dari batin yang sedang tidak dalam keadaan tersinkronkan dengan reaita kepercayaan yang saya anut dan percayai.

Lengkap sudah, tampan, tinggi semampai, adorable value, apalah guna sayap ini? Lebih suka menghabiskan malamnya dalam kandang hingga esok hari. Kecuali panggilan – panggilan langit ditengah riuh memanggil. Pasti akan saya cari sampai pelosok negeri. Ngeri kawan jika sudah bicara patah hati! BANGSAT! Sudah lama tidak saya sampaikan kalimat bengis ini. Menjadi presiden membuat saya menjadi sedikit terkendali. Terimakasih semesta, alam raya dan tipu daya. Saya bebas berkata!